,

Bur Jahul Menunggu Bencana

Pepohonan di sekitar hulu sungai itu mulai ditebang, dibakar dan dijadikan daerah perkebunan oleh orang yang mengaku empunya tanah, sedikit demi sedikit hutan yang membentang luas itupun mulai terlihat gundul ketika mata menoleh ke pegunungan l Jahul di kaki gunung Leuser.

Bur Jahul adalah sebutan untuk hulu sungai yang mengalir kedaerah pedesaan yang meliputi Kutebukit Blangpegayon, Anak Reje, Porang, Penampaan Uken, Penampaan, Bukit, Bacang, dan Kutelintang Kecamatan Blangkejere.

Hampir setiap musim penghujan, warga yang berada di hilir sungai itu merasa was-was terjadinya banjir bandang atau luapan air sungai Jahul, apa lagi ketika tanah tak bisa menampung curah hujan yang tinggi. Hal itu akan menjadi bencana bagi orang yang tinggal disekitar Daerah Aliran Sungai (DAS).

“Waktu hujan lebat bulan yang lalu, rumah warga desa Bacang sempat masuk air, dan persawahan mereka juga ada yang tertimbun pasir akibat air meluap dan masuk keperkampungan, dan itu terjadi hampir setiap tahun ketika musim penghujan tiba,” kata Yusuf warga Blangkejeren, Senin, 3 Desember 2018.

Sungai Jahul juga pernah memporak-porandakan pemukiman penduduk puluhan tahun silam, batang kayu besar disertai batu dan lumpur turun ke pedesaan hingga merenggut nyawa penduduk, ditambah lagi duka yang dialami warga ketika rumahnya disapu tanah dan areal persawahanya dikeruk air.

“Sudah saatnya pemerintah membuat aturan agar setiap hulu sungai hutanya jangan ditebang, dan bagi hutan yang sudah ditebang agar dapat dihijaukan dengan cara penghijauan lagi, sehingga masyarakat dihilir terhindar dari bencana,” katanya.

Tahun lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gayo Lues juga sempat melakukan normalisasi terhadap sungai Jahul di desa Kutebukit, program itu dibuat Pemerintah Daerah setempat setelah banyak lahan persawaahan diterjang banjir bandang.

“Jika hulu sungai Jahul tidak segera dihijaukan, saya yakin kita menunggu bencana, karena kepedulian masyarakat terhadap hulu sungai audah mulai berkurang, banyak pohon ditebang, dan banyak warga membuang sampah kesungai,” jelasnya.

Irwansyah Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gayo Lues mengatakan, untuk tahun 2019 akan dilakukan penghijauan setiap hulu sungai yang ada di Kabupaten Gayo Lues, sehingga bencana banjir bandang atau luapan air sungai bisa teratasi.

“Pak Bupati HM. Amru juga sudah setuju dengan program penghijauan setiap hulu sungai, dan tahun 2019 mendatang, setiap desa yang ada dihulu sungai akan dibantu biaya Rp 50 juta dari APBK Gayo Luea,” katanya.

Selain dari anggaran APBK, Dinas Lingkungan Hidup juga sudah mengusulkan ke Poivinsi Aceh dan Pusat agar diberikan bantuan untuk Gayo Lues, sehingga setiap hulu sungai bisa di reboisasi di tahun 2019 mendatang.

“Kami akan berupaya melakukan penghijauan semaksimal mungkin disetiap hulu sungai, dengan niat agar masyarakat Gayo Lues terhindar dari bencana alam,” ujarnya.[Win Porang]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *