,

Budi Waseso Tinjau RSUD Gayo Lues Untuk Rehabilitasi Penguna Narkoba

BLANGKEJEREN – Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) Letjen Budi Waseso berkunjung ke Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Gayo Lues, Minggu, 25 Februari 2018.

Rombongan dari pusat tersebut melakukan pertemuan dengan Direktur RSUD Gayo Lues, dr Mutia Fitria. Pemerintah Gayo Lues mewacanakan rumah sakit daerah tersebut akan dijadikan tempat rehabilitasi pengguna narkoba, sementara RSUD akan dibangun lain di tempat baru.

Bupati Gayo Lues H Muhammad Amru didampinggi Wakil Bupati H Said Sani mengatakan, RSUD Gayo Lues sangat cocok dijadikan sebagai tempat rehabilitasi pengguna narkoba, selain lokasinya luas, tempatnya juga sangat setrategis dan nyaman.

“Kami merencanakan menghibahkan RSUD ini sebagai rumah sakit rehabilitasi pengguna narkoba, sebab saat ini rumah sakit rehabilitasi penguna narkoba belum ada di Aceh,” jelasnya.

Kepala BNN RI Letjen Budi Waseso menyambut baik apa yang diharapkan Pemkab Gayo Lues, namun BNN RI tidak memiliki anggaran dalam mengurusi rumah sakit rehabilitasi, sehingga perlu koordinasi yang baik supaya semua yang diharapkan bisa terwujud.

Dalam pertemuan itu, Kepala BNN RI juga bercerita banyak dihadapan Bupati, Wakil Bupati, Kepala BNN Provinsi Aceh, Kapolres, Dandim, Kepala Dinas dan dokter, dalam pidatonya, ia mengatakan Indonesia saat ini sangat darurat.

“Perlu kami sampaikan juga, bahwa saat ini ada 72 jaringan internasional yang memasok narkotika ke Gayo Lues yang meliputi dari 11 negara, makanya saat ini, jenis apapun narkotika yang ada di dunia sudah ada di Indonesia,” ungkapnya.

Di Indonesia kata Budi Waseso, masyarakat bukan saja mengkonsumsi narkotika jenis sabu maupun pil ektasi, malahan bangsa Indonesia saat ini juga mengkonsumsi obat-obatan lain asal bisa membuat teler dan memabukan.

“Untuk memberantas peredaran narkoba di Gayo Lues, terutama sekali yang harus dilakukan adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat betapa bahayanya obat itu, serta dampak yang ditimbulkan, kalau memang pemahaman itu belum melekat pada diri masyarakat, sangat sulit melakukan pemberantasan, sebab budaya warga kita budaya adalah budaya Teler,” ucapnya.

Bahkan kata Budi Waseso, hukuman mati yang telah ada dalam Undang-Undang RI tidak mampu mencegah peredaran Narkoba, dan orang yang dikenakan hukuman mati juga tidak mati-mati sampai saat ini.

“Budaya sangat mempengaruhi peredaran narkoba, pihak-pihak tertentu sangat memampaatkan setiap momen untuk meraup keuntungan dari permasalahan narkoba, makanya narkoba semakin merajalela di Indonesia, tidak seperti di negara tetangga, mereka menghukum berat pengkonsumsi narkoba, tetapi seperti tutup mata saat narkoba hedak di selundupkan ke Indonesia,” katanya.[Win Porang]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *