,

Buaya Pemangsa Santri di Krueng Lembang Diduga Sengaja Dipelihara

TEROPONGACEH.COM | TAPAKTUAN – Keberadaan puluhan bahkan ratusan buaya liar di Krueng Lembang, Kluet Selatan, Aceh Selatan diduga sengaja dipelihara oleh pengelola Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) untuk melindungi kawasan hutan lindung itu dari kerusakan akibat ulah tangan jahil manusia.
 
Informasi itu telah berkembang luas di tengah masyarakat pasca kejadian seorang santri Pesantren terpadu Darusy-Syuhada, Desa Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan diterkam buaya saat sedang mandi di sungai, Jumat, 9 September 2016.
 
Dugaan itu disampaikan Ketua LSM Rimueng Lam Kalut, Bestari Raden. Menurutnya, kebijakan melepas sejumlah bibit buaya di sungai yang berada dalam wilayah TNGL tersebut berlangsung sekitar tahun 1998 semasa Bupati Aceh Selatan dijabat oleh Said Mudhahar Ahmad.
 
“Sebelumnya di Sungai itu memang sudah ada buaya namun jumlahnya tidak banyak. Karena kawasan itu masuk TNGL yang notabenenya tidak hanya mengandung berbagai jenis flora juga memiliki berbagai jenis fauna yang keberadaannya wajib di lindungi,” kata Bestari kepada wartawan di Tapaktuan, Sabtu, 10 September 2016.
 
Sejumlah warga menyebutkan, pasca dilepasliarkan bibit buaya sekitar tahun 1998 silam, buaya-buaya tersebut terus berkembang biak sehingga jumlahnya sekarang ini diperkirakan telah mencapai puluhan bahkan ratusan ekor. Keberadaan buaya itu, tidak hanya di Sungai Lembang yang berhulu ke Pucuk Lembang di kaki Gunung Leuser, melainkan telah menyebar ke sejumlah sungai lainnya, bahkan telah berkembang biak di Danau Laut Bangko, Kecamatan Bakongan.
 
Bestari Raden meminta kepada pihak pengelola TNGL seperti Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Yayasan Leuser Internasional (YLI) harus bertanggungjawab, dengan cara meningkatkan pengawasan di lapangan untuk mencegah terus bertambahnya jatuh korban jiwa.

“Noval Firmansyah (12) santri pondok Pesantren Darusy-Syuhada, Desa Pasie Lembang bukanlah korban pertama akibat keganasan buaya di Sungai Lembang tersebut. Karena pada tahun 2006 silam, kejadian serupa juga telah menimpa salah seorang ibu rumah tangga bernama Syarifah Khairu yang diterkam buaya saat sedang mencuci pakaian di pinggir sungai,” ungkapnya.
 
Sementara itu, Kapolres Aceh Selatan AKBP Achmadi SIK yang dikonfirmasi wartawan Sabtu (10/9) menyebutkan, proses pencarian terhadap korban hilang diterkam buaya yang belum membuahkan hasil kembali dilanjutkan oleh pihaknya bersama petugas BPBD, Satgas SAR Tapaktuan dengan dibantu Basarnas Pos Meulaboh serta masyarakat setempat.
 
Proses pencarian tersebut melibatkan puluhan petugas kepolisian bersenjata laras panjang dengan menggunakan beberapa rubber boat milik BPBD dan Satgas SAR serta perahu bermesin robin milik masyarakat setempat.
 
“Kami telah menyisir sepanjang Sungai Lembang dengan melibatkan pawang buaya dari Aceh Selatan. Dengan diawasi oleh pawang buaya, beberapa masyarakat setempat juga telah melakukan penyelaman ke dasar sungai yang keruh dan pekat itu namun sejauh ini belum membuahkan hasil,” jelasnya.

Kapolres melanjutkan, menurut keterangan dari tim penyelam, di bawah dasar sungai yang berkedalaman antara 5 hingga 8 meter itu terdapat sejumlah lobang berbentuk goa-goa. Karena goa-goa itu sangat sempit tim penyelam tidak berani memasukinya.

“Proses pencarian juga akan dibantu oleh salah seorang pawang buaya asal Aceh Singkil bernama Edi Syahputra, dengan kehadiran pawang yang lebih berpengalaman ini mudah-mudahan akan membuahkan hasil,” harapnya. [Hendri Z]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *