,

BKSDA Aceh Pantau Kasus Perambahan Hutan Konservasi

TAPAKTUAN – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh bersama pihak-pihak terkait lainnya terus memantau kelanjutan pengusutan kasus dugaan perambahan kawasan hutan konservasi suaka margasatwa Rawa Singkil di Gampong Keude Trumon, Kecamatan Trumon.

Kasus yang terungkap dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) tim gabungan pada tanggal 29 Oktober 2016 lalu tersebut sampai saat ini masih dalam proses penyidikan polisi. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Provinsi Aceh, Handoko Hidayat, dihubungi wartawan di Tapaktuan, Senin, 27 Februari 2017 mengatakan kasus tersebut
sudah masuk dalam ranahnya penegak hukum.

“Maka kami tidak boleh terlalu jauh ikut campur. Jika memang masih dibutuhkan keterangan dari kami seperti selama ini, maka kami selalu siap memberikan keterangan tambahan,” kata Handoko Hidayat.

Handoko sangat optimis kasus tersebut akan berlanjut ke pengadilan. Alasannya, setelah gelar perkara di Mapolda Aceh beberapa waktu lalu, Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Goenawan telah mengeluarkan statemen di media massa bahwa proses hukum terhadap kasus tersebut tetap berlanjut.

“Bahkan menurut informasi kami terima, proses pengusutan kasus dugaan perambahan kawasan hutan konservasi oleh pihak Polres Aceh Selatan tersebut telah naik ke tahap penyidikan. Termasuk berkas perkaranya sudah P 19 dan sudah pernah diserahkan ke jaksa namun karena belum lengkap dikembalikan lagi,” ungkap Handoko.

Saat di singgung mengenai alat berat excavator yang menjadi barang bukti (BB) dugaan perambahan hutan konservasi tersebut, namun pasca digelarnya OTT BB dimaksud bisa hilang dari lokasi, Handoko menjelaskan bahwa pasca berlangsungnya OTT oleh tim gabungan, pihaknya langsung mengamankan barang bukti alat berat excavator termasuk para pekerja di lapangan.

“Yang pasti, pasca OTT tersebut kami langsung mengamankan para pekerja di lapangan yang sedang menggali parit. Mereka langsung kami bawa ke Mapolres Aceh Selatan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Para pekerja bersama kunci Excavator dapat dipastikan sudah kami serahkan kepada penyidik polisi,” kata Handoko.

Meskipun demikian, Handoko mengaku tidak mau berpolemik dengan pihak penyidik kepolisian Polres Aceh Selatan terkait hilangnya barang bukti alat berat excavator dari lokasi OTT pelaku dugaan perambahan hutan konservasi tersebut. Sebab, tegas dia, disamping kasus itu sudah masuk ranahnya penegakan hukum oleh pihak kepolisian juga telah mereka laporkan kepada tim Gakkum Balai Besar Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup wilayah Sumatera, di Medan Provinsi Sumatera Utara.

“Kami tidak mau saling menyalahkan terkait persoalan itu. Secara kewenangan masing-masing pihak sudah kami laporkan. Apalagi proses penegakan hukum terkait kasus tersebut saat ini sedang berjalan,” pungkasnya. [Hendri Z]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *