,

BKA dari Aceh untuk Bank Nasional

Bank Kesejahteraan Aceh (BKA) merupakan bank daerah pertama di Indonesia. Keberhasilan Aceh membangun bank pembangunan daerah ini kemudian diadopsi oleh pemerintah Indonesia dengan mendirikan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo).

Buku ini mengupas bagaimana kiprah pemerintah Aceh pada masa awal kemerdekaan, membangun Aceh yang runtuh akibat perang, salah satunya mendirikan BKA dengan dana yang sangat terbatas.

Judul: Kronika Bank Aceh
Penulis: Iskandar Norman
Editor: Dr. H Rusdy A Hamid, SE, MM
Tebal: Xii + 230 halaman
Penerbit: PT Bank Aceh
Cetakan 1: Maret 2016

Pada masa awal kemerdekaan hingga tahun 1950-an Aceh terpuruk akibat konflik dan perang. Ekonomi masyarakat anjlok. Aceh benar-benar menderita akibat perang. Namun, di atas reruntuhan itu Aceh harus dibangun kembali dengan segala daya upaya.

Aceh pada masa itu benar-benar Aceh yang mencoba mendobrak sunyi. Pasar-pasar yang sepi coba dihidupkan kembali dengan berbagai komoditi hasil kebun rakyat. Itu juga tidak mudah, transportasi antar daerah banyak yang putus, rel-rel kereta api dibongkar, sepanjang jalan yang lazim terlihat pada masa itu adalah rumah-rumah yang terbakar akibat konflik dan perang. Aceh benar-benar sedang redup.

Gubernur Ali Hasymi menyebut Aceh sebagai sebagai bumi yang sudah tidak lagi disinari matahari dan langitnya seperti sudah tak berbintang. Ia juga membuat tamsilan Aceh sebagai suatu warisan dari masa lampau yang suram. Namun Dewan Pemerintah Daerah Aceh mampu membuat Aceh bangkit dan berdiri di atas kaki sendiri, salah satunya melalui pendirian BKA.

Menariknya, buku ini juga mengungkap sisi lain perbankan di Aceh pada masa kolonial. Pada masa Belanda di Aceh juga sudah ada 12 bank kolonial. Untuk menopang perekonomia rakyat, Belanda membuka perkebunan dan memberi modal kepada rakyat dan uleebalang yang tidak melawan.

Belanda mendirikan Volks Crediet Bank yakni bank pinjaman rakyat. Di Aceh Besar bank yang ini dinamai de Groot Atjehsche Afdeeling Bank. Rakyat yang menginginkan bantuan kredit untuk membuka kembali usaha atau menambah modal bisa mendapatkan di bank tersebut tanpa dikenakan bunga.

Sampai tahun 1916 didirikan lima bank kecil di Aceh Besar. Sementara di Aceh Utara dan Aceh Timur sejak tahun 1913 juga didirikan masing-masing satu bank. Dalam tahun 1918 jumlah bank yang didirikan Belanda di Aceh meningkat menjadi 29 bank. Sementara di Langsa didirikan AV Bank Langsa untuk untuk mengembangkan perkebunan pada masa tersebut, khususnya tanaman lada.

Buku ini kemudian dengan runut menjelaskan tahapan-tahapan perkembangan BKA, hingga kemudian berubah menjadi Bank Pembangunan Daerah (BPD) Aceh, sampai sekarang terus berubah menjadi Bank Aceh.

Iskandar Norman berhasil mengungkap sisi-sisi lain di balik perubahan bank milik Pemerintah Aceh tersebut, ditambah dengan kajian terhadap perubahan berbagai regulasi perbankan di Indonesia yang menyertai perjalanan bank di Aceh. Buku ini sangat layak dibaca oleh semua kalangan, terutama akademisi dan pelaku perbankan.[HK]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *