Bekerja Dalam Keadaan Hamil Tua, Petugas Pemilu di Aceh Selatan Meninggal Dunia

0
601

TAPAKTUAN – Jumlah petugas pemilu yang meninggal di Aceh kembali bertambah menjadi 5 orang, setelah satu orang lagi meninggal di Kabupaten Aceh Selatan atas nama Muridah, anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Peulokan, Kecamatan Labuhan Haji Barat.

Muridah melaksanakan tugas siang malam dalam kondisi sedang hamil 8 bulan sejak hampir sepuluh hari terakhir, meninggal dunia pada Sabtu pagi, 27 April 2019. Sebelum meninggal, korban yang tiba-tiba jatuh sakit pada saat sedang melaksanakan tugas, sempat dirawat di Puskesmas Labuhan Haji Barat sejak dua hari lalu. Karena kondisi fisiknya makin menurun, korban dirujuk ke RSUD Teuku Pekan (RS Korea) Blang Pidie, Aceh Barat Daya (Abdya).

Dokter yang menangani korban, terpaksa harus mengambil keputusan melakukan operasi karena melihat kondisi fisik korban sudah cukup lemas. Sehingga bayi dalam kandungan berhasil diselamatkan. Sementara korban menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Korea Blang Pidie.

Kabar duka tersebut langsung dilaporkan oleh Camat Labuhan Haji Barat, TM Nasrijal S.STP via telephone kepada wartawan Sabtu siang. “Innalillahiwainnailaihirajiun, salah seorang anggota PPS Desa Peulokan telah meninggal dunia Sabtu pagi tadi,” jelas Nasrijal.

Muridah merupakan penyelenggara pemilu pertama yang menjadi korban keganasan Pemilu serentak tahun 2019 di Aceh Selatan. Kasus ini makin menambah deretan jumlah korban dari penyelenggara Pemilu tahun 2019 yang meninggal dunia di seluruh Indonesia, karena kelelahan menjalankan tugas siang malam hampir sepuluh hari terakhir pasca berlangsungnya pemungutan suara 17 April lalu.

Keterangan yang dihimpun dari berbagai sumber di Labuhan Haji Barat oleh Camat TM. Nasrijal, sejak melaksanakan tugas pada saat proses penghitungan suara di TPS Desa Peulokan yang berlangsung hingga larut malam bahkan sampai subuh, korban yang dalam kondisi hamil telah pernah diingatkan agar lebih banyak beristirahat.

Peringatan serupa, lanjut camat, kembali disampaikan pada saat berlangsungnya rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2019 tingkat PPK yang berlangsung di Kantor Camat Labuhan Haji Barat.

“Korban merasa tidak enak untuk berhenti, karena merasa bertanggung-jawab menyelesaikan proses rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2019 meskipun kondisi fisiknya sudah cukup lelah,” ungkap TM. Nasrijal.

Pasca menerima informasi korban telah meninggal dunia di RSUD Korea Blang Pidie, Camat TM.Nasrijal langsung menghubungi komisioner PPK Labuhan Haji Barat meminta agar proses rapat pleno dihentikan sementara waktu.

Rapat pleno, kata camat, baru boleh dilanjutkan kembali setelah jenazah korban selesai dikebumikan oleh pihak keluarganya bersama masyarakat Desa Peulokan. “Saat ini jenazah sedang dalam perjalanan dari Blang Pidie ke Labuhan Haji Barat. Saya sudah meminta kepada seluruh komisioner PPK dan PPS di kecamatan saya, agar seluruhnya memakai baju seragam Pemilu 2019 menyambut jenazah di rumah duka. Proses rapat pleno penghitungan suara baru boleh dilanjutkan lagi, setelah jenazah selesai di fardhu kifayahkan,” tegasnya.[HM]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here