,

BBM Habis Berujung Pelecehan Seksual

Kamis malam, Mando (bukan nama sebenarnya) sudah stedi betul. Usai shalat magrib, pria asal Pidie ini tancap gas sepeda motor dari Desa Durin, Blangkejeren tempat kosnya menuju rumah tambatan hatinya, sebut saja namanya Ipak di Desa Kute Ujung, Kute Panyang, Gayo Lues.

Sampai di rumah kekasihnya, pemuda berusia 23 tahun itu dengan senyum kenjatannanya meminta izin pada orang tua Ipak untuk sekedar jalan-jalan menikmati malam. Ia ingin menyenangkan hati kekasihnya itu. Tak perlu banyak cerita, izin diberikan oleh sang ibu.

Bak Romeo dan Juliet, keduanya menelusuri malam, wajah Mando berseri bukan kepalang, sang kekasih tambatan hatinya pun demikian. Malam itu, dunia seolah milik mereka berdua. Sambil berboncengan di motor, mereka berbicara tentang masa depan. Ya, keduanya berencana menikah. Apalagi hubungan mereka sudah direstui kedua orang tua.

Jalan yang berbukit, menikung dan menanjak, seolah rata saja rasanya di benak Mando. Singkat kata, gunung akan didaki, lautan akan diseberangi dengan sang tambatan hati. Tapi tiba-tiba di tengah perjalanan, sampai di desa Akang Siwah, Blangpegayon, sepeda motor Mando mati. Perasaan yang sedang bebunga-bunga jadi buyar. Setelah diselidiki, ternyata bahan bakar minyak alias BBM di tangki sepeda motornya habis.

Bagi dua sejoli yang sedang dilanta asmara, itu bukanlah kendala. Ipak dan Mando mendorong pelan-pelan sepeda motor di tengah gelap malam. Tambah romantis saja jadinya. Meski lelah dan berpeluh, Ipak tetap setia mendampingi Mando malam itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 23.10 WIB. Tiba-tiba, ketika sedang capek-capeknya mendorong sepeda motor, dua orang pemuda menghapiri mereka. Mando berniat minta tolong, tapi celakanya malah jadi petaka. Kedua pemuda itu berkata pada Mando dan Ipak, berduaan dalam gelap malam dengan bukan muhrim bisa dianggap mesum. Kalau ditangkap warga, bisa jadi berabe, hukumannya tak tanggung-tanggung, cambuk di depan umum.

Diancam dua pemuda dalam gelap malam, Mando jadi ketakutan. Apalagi setelah kedua pemuda itu mulai mengganggu Ipak. Pertengkaran terjadi, tapi Mando tak kuasa melawan. Ia diikat oleh kedua pemuda itu, sementara Ipak dibawa masuk ke kebun jagung.

Sampai di kebun jagung, tangan kedua pemuda itu menjelajah tubuh Ipak. Gadis berusia 19 tahun itu berontak, menjerit dan menangis sambil mengiba agar dia tidak diapa-apakan. Tapi kedua pemuda yang sudah dirasuki setan itu tak mempedulikannya.

Dalam keadaan tertekan seperti itu, Ipak tak habis akal. Ia dengan terpaksa rela badannya di pegang pegang asal jangan keperawanannya hilang. Ia ingin mahkota kebanggaannya itu dipersembahkan khusus untuk Mando, apalagi mereka sudah berjanji akan segera menikah, untuk mengarungi bahtera sehidup semati.

Mando pun tak kuasa melihat tambatan hatinya diganggu kedua pemuda itu. Dengan sekuat tenaga ia berusaha dan berhasil meloloskan diri. Ia berlari ke arah pemukiman penduduk sambil berteriak minta tolong. Tak berapa lama, Mando kembali ke kebun jagung itu bersama puluhan warga. Kedua pemuda bejat itu pun kaget dan serta merta melarikan diri, karena takut diamuk warga. Warga kemudian menyarankan Mando dan Ipak untuk membuat laporan ke kantor polisi.

Kapolres Gayo Lues AKBP Bhakti E Nurmansyah melalui Kasat Reskrim Iptu Suwandi yang didampinggi Kanit Buser Ipda Rafi Sekedang, Jumat, 4 Maret 2016 menjelaskan, Ipak awalnya hendak diperkosa oleh kedua pemuda itu, satu pemuda memegang senter dari korek api, satu lagi memegang tubuh Ipak.

Untuk memastikan kejadian itu, Ipak kemudian dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Hasilnya dokter memastikan bahwa keperawanan Ipak masih utuh, ia tidak diperkosa, hanya mengalami pelecehan seksual.

Polisi juga mengerahkan tim ke kebun jagung Tempat Kejadian Perkara (TKP). Usai penyelidikan, tiga orang pemuda desa Akang Siwah di bawa tim buru sergap (Buser) ke Polres. Mereka ditangkap berdasarkan cirri-ciri yang disampaikan Ipak dan Mando. Namun ketiga pemuda itu dilepas kembali karena setelah diperlihatkan pada Ipak ternyata bukan mereka pelakunya.

“Kami mengamankan tiga orang itu berdasarkan ciri-ciri yang diberikan oleh korban, setelah ditunjukan, kata korban bukan itu pelakunya, jadi kami masih berusaha melakukan petunjuk baru, dan sekarang sudah kami dapatkan petunjuknya,” jelas Rafi.

Petunjuk yang didapatkan pihak kepolisian adalah sebuah jeket yang ditinggalkan pelaku di kebun jagung, jeket itu sempat dipakai tersangka sebelum melakukan pelecehan seksual. “Kami akan terus mencari bukti-bukti dan mangkap dua orang pelaku ini secepatnya,” tegas Rafli.[Win Porang]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *