,

Baru Dicambuk 100 Kali Pemerkosa Tumbang

TAPAKTUAN – Eksekusi 143 kali cambuk terhadap pelaku pemerkosaan di Tapaktuan dihentikan atas rekomendasi dokter. Terpidana mengalami luka-luka setelah 100 kali cambukan.

Eksekusi hukuman cambuk dengan merujuk Qanun Jinayat Nomor: 6 tahun 2014 terhadap dua terpidana pemerkosaan yang berlangsung di halaman Mesjid Agung Istiqamah, Tapaktuan, Jumat, 5 Agustus 2016 sekitar pukul 14.00 WIB atau sehabis shalat Jumat.

Penghentian eksekusi terhadap kedua terpidana masing-masing atas nama Dedi Firmansyah warga Desa Tampang, Kecamatan Samadua dan Ali Imran warga Desa Sawah Tingkeum, Kecamatan Bakongan Timur tersebut. Berdasarkan rekomendasi tim dokter dari Puskesmas Air Berudang Kecamatan Tapaktuan yang dipimpin dr. Risva Azmi setelah melakukan pengecekan kesehatan terhadap kedua terpidana pasca di eksekusi hukuman cambuk oleh algojo dari Polisi Wilayatul Hisbah (WH) Aceh Selatan.

Terpidana Dedi Firmansyah pelaku pemerkosaan terhadap anak di bawah umur terbukti telah melanggar pasal 34 Qanun Aceh nomor: 6 tahun 2014 tentang hukum Jinayat dimana telah mendapat putusan hukum inkrah dari Mahkamah Syar`iyah Tapaktuan Nomor: 0002/JN/2016/MS-TTN tanggal 6 Juni 2016 dengan jumlah `uqubat cambuk Hudud dan Tajir sebanyak 150 kali dipotong masa tahanan selama 180 hari sehingga jumlah hukuman cambuk yang diterima menjadi 143 kali.

Sesuai tata cara hukuman cambuk yang diatur dalam Qanun Jinayat, proses eksekusi cambuk dilakukan pertahapan. Tahap pertama dilakukan sebanyak 25 kali selanjutnya terpidana diperiksa kesehatannya oleh tim dokter. Setelah eksekusi cambuk terhadap Dedi Firmansyah dilakukan sebanyak 100 kali, tim dokter memutuskan untuk menghentikan eksekusi cambuk terhadap yang bersangkutan dengan pertimbangan kesehatan yang sudah tidak mendukung karena luka cambuk di bagian punggung terpidana sudah cukup parah.

Kondisi serupa juga dialami terpidana pemerkosaan terhadap perempuan dewasa atas nama Ali Imran. Yang bersangkutan juga telah terbukti melanggar pasal 18 Qanun Aceh Nomor: 6 tahun 2014 tentang hukum Jinayat berdasarkan putusan hukum inkrah dari Mahkamah Syar`iyah Tapaktuan Nomor: 0004/JN/2016/MS-TTN tanggal 6 Juni 2016 dengan hukuman Tajir sebanyak 160 kali dipotong masa tahanan selama 113 hari sehingga jumlah hukuman cambuk yang diterima sebanyak 156 kali.

Terhadap yang bersangkutan proses eksekusi hukuman cambuk telah berlangsung sebanyak 125 kali, namun karena berdasarkan hasil pemeriksaan tim dokter luka yang dialami di bagian punggung terpidana sudah cukup parah, sehingga proses eksekusi juga terpaksa harus dihentikan.

Kasie Pidana Umum (Pidum) Kejari Aceh Selatan, Zainul Arifin mengatakan, dengan penghentian eksekusi cambuk tersebut maka status hukum terhadap kedua terpidana dimaksud belum selesai. Keduanya kembali dijebloskan ke dalam Rumah Tahanan (Rutan) kelas IIB Tapaktuan sambil menunggu digelarnya eksekusi cambuk susulan.

“Sesuai tata cara hukuman cambuk yang diatur dalam Qanun Jinayat, proses eksekusi cambuk terhadap kedua terpidana tersebut baru bisa dilanjutkan kembali jika telah mendapat rekomendasi dari tim dokter yang menerangkan bahwa mereka benar-benar sudah sehat,” tegasnya.

Menurutnya, penerapan hukuman cambuk terhadap terpidana pelanggar syariat Islam di Aceh Selatan dengan merujuk Qanun Jinayat baru kali ini diterapkan terhadap kedua terpidana tersebut. Berdasarkan Qanun Jinayat tersebut, selain hukuman cambuk terhadap terpidana lebih dari 100 kali juga diberikan kewenangan kepada petugas Wilayatul Hisbah (WH) dan Jaksa untuk melakukan penahanan.

Sebenarnya, kata Zainul, ada lima perkara sepanjang tahun 2015 dan 2016 yang dijerat dengan Qanun Jinayat telah mendapat putusan dari Mahkamah Syar`iyah Tapaktuan, dua kasus diantaranya yang melibatkan terpidana Dedi Firmansyah dan Ali Imran, dua lagi melibatkan terpidana Irfan warga Kecamatan Labuhanhaji terkait kasus pencabulan dan terpidana Tarmizi warga Kecamatan Pasie Raja terkait kasus pemerkosaan sedangkan satu orang lagi putusan hukumnya belum inkrah karena mengajukan banding.

Pihaknya, kata Zainul, telah menjadwalkan pada Jumat pekan depan akan dieksekusi cambuk terhadap terpidana Irfan di Mesjid Kecamatan Labuhanhaji Tengah. Terpidana terkait kasus pencabulan tersebut akan dicambuk sebanyak 50 kali. Sedangkan terpidana Tarmizi terkait kasus pemerkosaan anak Sekolah Dasar akan mendapat hukuman cambuk sebanyak 200 kali dimana pelaksanaan hukuman cambuk tersebut direncanakan akan berlangsung dua pekan ke depan di Mesjid Kecamatan Pasie Raja.

“Sesuai Qanun Jinayat, pelaksanaan hukuman campuk wajib dilakukan di tempat kejadian perkara (TKP) masing-masing. Namun khusus terhadap dua terpidana yang dieksekusi hari ini, terpaksa harus di cambuk di Mesjid Agung Istiqamah Tapaktuan, karena proses eksekusi itu merupakan yang perdana menggunakan Qanun Jinayat,” jelasnya.[Hendri Z]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *