Banda Aceh Kota Harapan Milenial

0
712

Oleh Tuanku Warul Waliddin

Banda Aceh sudah berusia 814 tahun, sebuah perjalanan yang penuh fragmen sejarah dan peradaban, cerminan untuk masa depan, dan tentunya Banda Aceh harus bisa menjadi kota harapan milenial.

Peradaban di sebuah bangsa selalu tak lepas dari keberadaan suatu Bandar. Sudah menjadi sunnatullah sejak Nabiyullah Adam dan siti Hawa diturunkan ke muka bumi dan dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh hingga dipertemukan di Jabal Rahmah tempat kita melaksanakan wuquf hari ini dan membangun sebuah kehidupan di sebuah Kota Pesisir Pantai yang Bernama Jiddah (kota Nenek).

Dari bandar tua ini peradaban dunia dimulai, yang terus berkembang di sepanjang sumber kehidupan yaitu disepanjang kawasan yang dialiri sungai hingga mengantarkan kepada peradaban disekitar sungai Efrat dan Tigris di teluk Persia yang mencapai puncak kejayaanya di masa Emperium Summeria, Babilonia hingga Assyiria.

Sungai Efrat memberi kehidupan yang membawa kepada kemunculan peradaban Sumeria, lebih kurang abad ke-4 SM. Kebanyakan kota purba penting terletak di tebing sungai ini termasuk Mari, Sippar, Nippur, Shuruppak, Uruk dan Eridu. Lembah sungai ini juga membentuk pusat imperium Babilon dan Assyria.

Sebuah sungai di Mesopotamia yang mengalir dari pegunungan Anatolia di Turki hingga melalui Irak dan bermuara di Teluk Persia, sepanjang sekitar 1.900 km. Bersama-sama sungai Efrat, Tigris menjadi ciri khas daerah Mesopotamia.

Banda Aceh sebagai sebuah kota peradaban tepah melalui beragam fragmen sejarah dalam berbagai periode perkembangannya. Mulai dari masa Lamuri, kesultanan Aceh Darussalam, masa kolonial, pasca kolonial, masa tsunami, dan masa pasca tsunami.

Masa Lamuri (sebelum 1205)
Sebelum 1205, di Banda Aceh berkembang Kerajaan Lamuri yang menurut sebagian catatan merupakan Kerajaan Hindu-Budha, namun temuan terkini menyatakan Lamuri bukan lagi kerajaan Hindu-Budha, sebagai yang disakwa sangkakan selama ini, namun telah berasimilasi menjadi Kerajaan Islam Lamuri yang terbentang di sepanjang pantai Banda Aceh dan Aceh Besar hari ini (Kawasan Ujung Pancu hingga Lamreh –Krueng raya saat ini).

Hinga kini Artefak peninggalan Hindu-Budha di Aceh tidak terlampau signifikan, ini dibuktikan dengan temuan beberapa batu nisan yang diyakini berasal dari masa Kerajaan Lamuri yang sudah berhasil dibaca pada tulisan batu nisan menunjukkan bahwa era Lamuri para petinggi kerajaan sudah menyebarkan ajaran Islam.

Masa Kesultanan Aceh Darussalam (1205-1874)
Pada 22 April 1205, di gampong Pande dan Gampong Jawa sekarang, Kerajaan Aceh Darussalam didirikan oleh Sultan Alaiddin Johansyah (berlaqab abdul Azis) Bin Machdum Abi Abdillah Asyech Abdul Rauf (Tuan Dikandang Sjech Bandar Darussalam).

Kerajaan ini telah murni menegakkan Hukum-hukum Islam yang Rahmatan lil’alamin, dimana sang Sultan Pendiri sendiri salah satu generasi Ke-4 dari Sultan Turkistan yang berasal dari bani Saljuk, yang mana di Abad yang sama tepatnya 1299 M di Barat Laut Anatolia lahirlah Kesultanan Turki Utsmani dibawah Pimpinan Sultannya yang pertama yaitu Sultan Usman I putra dari Ertughrul Bey pemimpin Suku Kayi yang tersohor kemampuan dan kekuatan pasukan perangnya, yang mana Istri daripada Ertughrul Bey merupakan Putri salah satu pangeran Dinasti Saljuk yang bernama Putri Halime.

Kesultanan Aceh mampu melewati berbagai fase kebangkitan hingga 300 tahun kemudian tepatnya pada 1514 M mampu disatukan oleh Sultan Alaiddin Johan Ali Mughayatsyah bin Sultan Alaiddin Salahuddin Syamsusyah yang mampu menaklukkan seluruh wilayah Aceh dari Daya, Pedir, Pasai, Perlak, Aru, Deli hingga mencapai Kejayaannya dimasa sultan Iskandar Muda yang mampu Menguasai Malaka, Johor (1613), Bintan (1614), Pahang (1618), Kedah (1619), Perak (1620) dan Nias (1624) dengan Pusat Komando Pemerintahan di Istana Daruddonya, Bandar Aceh.

Pusat pemerintahan ini menjadi sangat ramai dikunjungi oleh bangsa-bangsa dunia lainnya untuk melakukan berbagai hubungan diplomatic, perdagangan hingga menjadi pusat pengembangan berbagai ilmu pengetahuan, baik ilmu militer maupun ilmu terapan lainnya hingga mengantarkan Bandar Aceh menjadi kota tersibuk di kawasan Asia Tenggara dimasanya dan Kerajaan Aceh menjadi 5 besar Emperium Islam Terbesar di dunia dibawah Turki Utsmani, Maghribi, Isfahan, Mughal dan Aceh Darussalam.

Jauh Sebelum kerajaan Thailand yang hari ini menjadikan Gajah Putih sebagai Simbol keagungan negerinya, Aceh Darussalam telah lebih dulu menjadikan gajah sebagai armada angkut militer yang gagah perkasa. Di mana saban harinya gajah-gajah yang berjumlah sekitar 300 ekor disiagakan di Medan Khayali (Blang Padang sekarang), dan diistirahatkan pada sore hingga malam harinya di Pulau Gajah yang terletak di Tengah sungai Krueng Aceh disekitar Hotel Medan Sekarang.

Sebagai Kota yang dibelah oleh sungai yang indah dan dhubungkan oleh sebuah kanal yang dibangun Sultan Iskandar Muda yang dikenal dengan Krueng Daroy yang menghubungkan mata ie ke krueng Aceh melewati Istana Daruddonya dengan ditumbuhi tanaman-tanaman herbal di sepanjang bantaran sungainya yang gugur daunnya bercampur air sungai yang dapat menjadi berbagai macam obat membuat Banda Aceh layaknya sebuah perwujudan syurgawi yang ada di dunia, ditambah pula dengan diciptakannya Bustanussalatin (Taman Para Raja) di kawasan Taman sari sekarang melengkapi indahnya Ibukota Kesultanan yang tiada bandingannya di kawasan ini sebagai kota yang indah, mahsyur dan Modern.

Hingga tiba saat meluasnya invasi koloni bangsa Eropa ke tanah Asia dimana hampir seluruh Nusantara mampu dikuasai bangsa-bangsa Eropa secara bergantian baik Portugis, Inggris dan Belanda untuk kepentingan penguasaan hasil bumi dan perdagangan sejak tahun 1500-an namun Kerajaan Aceh masih disegani oleh Bangsa-bangsa kolonial tersebut.

Adalah malapetaka di tahun 1873 akibat konflik perebutan wilayah kepulauan Aru antara pihak Aceh dan Belanda hingga terus merucingnya konflik antar kedua pihak dan maklumat perang pun tak dapat terbendung lagi, dimana pada 26 Maret 1873 Belanda Menyatakan maklumat perang terhadap kerajaan Aceh dari atas Kapal Citadel yang lepas jangkar 100 meter dari bibir pantai UleeLheu.

Hingga perang berkepanjangan terus tak terelakkan dan membuat pusat pemerintahan berpindah ke Keumala dalam karena Bandar Aceh dan Istana telah dibakar oleh Belanda pada 1874. Hingga Ditangkapnya Sultan Aceh terakhir Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah yang dipaksa menyerah oleh Belanda namun tidak pernah mau menandatangani Surat Perjanjian Takluk Aceh dibawah Belanda dengan berbagai iming-iming Negeri Sultan akan dibangun kembali dan harta sultan yang telah dirampas akan dikembalikan, dan Sultan tetatap pada pendiriannya tidak mau tunduk kepada Belanda hingga pihak Belanda terpaksa membuang Sultan jauh dari tanah airnya yaitu ke Ambon hingga berakhir hayatnya di Batavia pada 6 Februari 1939.

Masa Kolonial (1874-1945)
Setelah Belanda berhasil menduduki Dalam (Istana) pada tahun 1874, terjadi perubahan tatanan kota yang amat signifikan di banda Aceh. Belanda mengubur semua memori tetntang kebesaran Kerajaan Aceh, Pustaka Besar Kerajaan yang konon terletak dikawasan bekas penjara keudah dibumi hanguskan beserta hampir seluruh isinya.

Pola yang sama pernah dilakukan militer Amerika pada saat menginvasi Kota Baghdad agar berbagai sumber pengetahuan yang tersimpan rapi di sana dapat dilenyapkan, hingga pengetahuan berganti dengan kebodohan dalam berbagai sisi kehidupan.

Belanda juga menimbun kanal-kanal, membangun jembatan dan jalan kereta Api yang menandai perubahan dari budaya air menjadi budaya darat. Sungai-sungai tidak bisa diarungi perahu dengan leluasa, karena konstruksi jembatan menghalangi perahu-perahu dan kapal berlalu lalang hilir mudik.

Ideologi Belanda dalam membangun kutaraja adalah ide kolonial untuk membangun kota militer. Masa kolonial Belanda Berakhir dengan datangnya Jepang pda 1942. Jepang hanya 3 tahun di Aceh dan tidak banyak mendapat kesempatan membangun, sehingga zaman ini tidak member perubahan yang berarti bagi arsitektur kota. Masa colonial berakhir pada tahun 1945 ketika Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Masa Pasca kolonial
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, dan Aceh menjadi sebuah Ibukota Residen, Pemerintah Indonesia berperan dalam mmebangun Aceh. Karya arsitektur di masa ini lebih merupakan karya individu atau kelompok tertentu, bukan lagi karya kolektif seorang Sultan.

Pemerintah dizaman kemerdekaan berupaya mengembalikan citra warisan tamaddun Banda Aceh dengan memberi nama dan gelar-gelar yang diambil dari khazanah masa lalu kota ini. Namun dalam tatanan dan produk karya arsitekturnya terlihat lebih banyak melanjutkan ide-ide kolonial dalam membangun kota berbudaya barat.

Pembangunan fisik mencurahkan kegiatannya pada pembangunan masjid raya tetapi mengabaikan citra budaya air yang dimiliki kota ini di masa lalu. Dari hal diatas dapat diketahui bahwa di Aceh terjadi suatu perubahan dari tradisi yang pluralisktik menjadi modern-individuistik yang dibawa oleh Belanda. Pemerintahan Orde Baru berupaya melestarikan kembali tradisi lama dengan menggalakkan ornamen ukiran Aceh, tetapi lebih banyak bermain dengan langgam tradisional, belum sampai ke tingkat makna yang ditekuni secar menyeluruh.

Masa Tsunami (2004)
Ini merupakan masa yang sangat memberikan perubahan yang signifikan bagi wajah Kota Banda Aceh khususnya dan Aceh secara umum. Ada banyak perubahan fisik kota Banda Aceh di era ini. Musibah yang telah meluluhlantakkan hampir seluruh pesisir pantai Aceh ini banyak membuka lembaran baru bagi tatanan kota dan perilaku masyarakatnya. Mulai dari berakhrinya konflik yang berkepanjangan hingga pembangunan yang di kelola oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dengan bantuan yang mengalir deras dari berbagai bangsa dunia yang banyak melahirkan karya-karya baru bagi wajah Banda Aceh. Ini menjadi harapan titik balik kebangkitan Banda Aceh setelah menjadi kota paling ditakuti untuk dikunjungi se-Indonesia selama kurun waktu 3 dekade

Masa Pasca Tsunami (2005-sekarang)
Pembangunan terus berlangsung disana-sini, seolah seperti kucing liar yang baru di lepas ke habitatnya, pembangunan kota Banda Aceh begitu cepat dan telah dimulai dari nol. Namun apa yang terlihat?, Minus identitas yang mencirikan kota yang telah berusia 800-an tahun.

Kita tidak melihat ada rekonstruksi kota yang pernah punya nama besar di era-Kesultanan yang tersohor hingga ke belahan dunia lain. Ini menjadi kegamangan besar pemerintah Kota memasuki 3 periode pemerintahan pasca tsunami. Identitas Banda Aceh sebagai kota Budaya pun hanya sebatas “Kota Seribu Warung Kopi”. Yang tentunya memperlihatkan sangat minimnya kreatifitas para pengambil kebijakan di Kota ini didalam melabeli Kota yang tahun ini berusia 814 Tahun.

Kita tidak melihat para pihak baik eksekutif maupun legislatif berusaha mengendalikan arus pembangunan Banda Aceh kepada kota yang layak dibanggakan dengan usia periodesasi yang cukup panjang dan terkoneksi. Minimnya kreatifitas para pihak ini menyebabkan kota Banda Aceh yang diharapakan mampu bangkit 10 tahun pasca tsunami menjadi kota yang sangat kuat perputaran ekonominya hingga kita tidak menemukan satu pemuda pun yang menganggur dikota ini karena ada banyak hal yang dapat dilakukan dengan peluang kerja dan peluang usaha yang sangat luas tersaji di kota tua ini.

Namun hingga memasuki tahun ke -814 usianya Banda Aceh sebagai kota “Harapan Milenial” belum memperlihatkan ada satu gerakan yang mampu mendenyutkan jantung kota ini sebagai kota yang penuh ilmu pengetahuan, kota tempat banyaknya transaksi perdagangan, kota tujuan pariwisata yang sangat patut dikunjungi dengan usia sepuhnya, dan kota tersibuk dan paling ramai diperbincangkan oleh warga dunia.

Di tahun politik ini tentunya ada secercah harapan untuk dapat terwujudnya cita-cita tersebut dengan kita menitipkan harapan kepada para wakil-wakil rakyat yang mumpuni dan memahami karakteristik kotanya agar tidak terjadi lagi salah kelola dan salah perencanaan akibat salahnya kita menempatkan Wakil kita di Legislatif, selamat Ulang tahun Banda Aceh “Kota Harapan Milenial”.

*Tuanku Warul Waliddin, Pang Ulee Komandan Al Asyi dan anggota keluarga besar Kaum Alaiddin Kesultanan Aceh Darussalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here