,

Badak Uken Longsor Lagi, Raskin Harus Dilansir

BLANGKEJEREN – Jalan menuju Badak Uken kembali longsor, distribisi beras untuk masyarakat miskin (Raskin) jadi tersendat. Raskin harus dilansir di jalan jauh sebelum sampai ke penduduk.

Masyarakat Desa Badak Uken dan pengguna jalan lintas Sangir Badak Uken (Blangtemung), Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues mendesak Pemerintah daerah setempat untuk membersihkan tanah longsor, karena tidak bisa dilintasi kendaraan roda empat.

Wais (28) salah satu warga yang melintasi jalan itu, Kamis, 8 Juni 2017 mengatakan, masyarakat sangat kewalahan akibat badan jalan tertimbun tanah longsor, meski sudah berulang kali dibersihkan warga dengan cara gotong royong bersama, namun kendaraan roda empat masih tak bisa melintasinya.

“Kalau ada mobil yang hendak menuju desa Badak Uken, maka harus memarkirkan di lokasi timbunan tanah longsor itu, karena meskipun sekuat tenaga hendak dilintasi, kendaraan yang tidak menggunakan gerdang ganda (double cabin) tetap tidak bisa melintas,” katanya.

Begitu juga dengan kejadian hari Rabu tanggal 7 Juni 2017 kemarin, mobil pengangkut beras untuk masyarakat miskin gratis (Raskintis) yang hendak mengantarkan jatah beras miskin ke desa Badak Uken terpaksa menurunkan muatan di dekat jalan yang longsor itu, padahal jarak dari jalan longsor ke desa Badak Uken mencapai waktu satu kilometer lebih dengan posisi jalan yang menanjak curam itu.

Hal itu membuat warga desa Badak Uken harus melangsir beras raskin yang diantarkan Pemerintah Daerah dengan cara menggunakan sepedamotor, tentu saja biaya yang dikeluarkan akan lebih tinggi dibandingkan menerima beras raskin yang sudah digratiskan Pemerintah Gayo Lues di desa itu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gayo Lues, Zakaria yang dikonfirmasi terkait desakan warga Badak Uken merasa serba salah, soalnya, dari awal tahun 2017 yang lalu hingga sekarang sudah dua kali alat berat diturunkan kelokasi longsor untuk membersihkan longsoran.

“Itulah masalahnya, setiap diturunkan alat berat ke lokasi longsor menghabiskan anggaran Rp 300 Juta hingga Rp 400 juta karena alat beratnya hingga berminggu-minggu bekerja di sana,” katanya.

Pihaknya khawatir jika terlalu sering dalam satu tahun menuangkan anggaran ketempat yang sama membersihkan longsoran akan menjadi temuan BPKP dikemudian hari, dan akan menjadi bumerang bagi pihak BPBD sendiri.

“Solusinya jalan itu harus dibuka baru, dan kami dari BPBD akan berkoordinasi dengan Dinas PU dan Bupati, karena meskipun longsoranya dibersihkan sekarang, beberapa hari kedepan akan turun lagi tanahnya, sebab gunung itu memiliki mata air, dan di musim kemarau juga tetap ada air yang mengalir dari dalamnya, harus dibuka jalan baru itu,” kata Zakaria.[Win Porang]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *