,

Atasi Konflik Gajah, Aceh Timur Bangun Barrier

IDI – Untuk mengatasi konflik antara manusia dengan gajah di kawasan pedalaman, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur membangun pembatas (barrier) sepanjang 48,9 kilometer. Pencanangan barrier ikut dihadiri oleh aktivis lingkungan dari Jerman, Kanada, dan Amerika Serikat.

Pembuatan barrier akan memudahkan gajah liar digiring ke habitatnya dengan bantuan gajah jinak di Conservation Respons Unit (CRU) Serbajadi. Selama ini konflik gajah dengan manusia sering terjadi di Kecamatan Ranto Peureulak, Julok, Indra Makmur, Banda Alam, Birem Bayeun, Sungai Raya dan Peunaron, serta beberapa lokasi pedalam lainnya. Kini, masyarakat di sana tidak perlu was-was lagi, karena gajah liar akan dikarantina sesuai standar lingkungan dan telah terbukti di beberapa negara luar dengan cara ini gajah tetap terlindungi.

“Kita fokus menyelesaikan konflik gajah dengan manusia, terbukti kita mulai membangun barrier yang didukung dengan CRU Serbajadi dengan empat ekor gajah jinak yang telah kita tempatkan sejak akhir 2015 lalu,” kata Bupati Aceh Timur, H. Hasballah HM.Thaib usai pencanangan pembuatan barrier gajah di Desa Arul Pinang, Kecamatan Peunarun, Selasa 24 Mei 2016.

Dia mengatakan, keseriusan pemerintah dalam menyelamatkan ekonomi rakyat di pedalaman Aceh Timur telah dibuktikan lewat penggiringan gajah ke habitatnya. Bahkan pihaknya mengapresiasi pihak Balai KSDA Aceh dan Forum Konservasi Leuser (FKL) yang ikut membantu penyelesaian konflik gajah dengan manusia.

“Kita juga bangga dengan kerja FKL yang mampu membangun kepercayaan NGO asing dalam membantu Aceh Timur menyelamatkan satwa gajah, sehingga untuk tahap pertama pembuatan barrier gajah dilakukan kerjasama antara Pemkab Aceh Timur dengan pihak FKL di bawah pimpinan Rudi Putra,” kata bupati dengan sapaan Rocky tersebut.

Setelah selesai konflik gajah, Rocky mengaku ke depan pihaknya akan berupaya memperbaiki ekonomi masyarakat di pedalaman Aceh Timur khususnya petani-petani yang selama ini tanamannya dirusak gajah. “Menjaga hutan dan habitat di dalamnya adalah tugas Balai KSDA, termasuk kita. Tapi bagi saya di pemerintahan yang paling penting adalah membangun ekonomi rakyat demi kesejahteraan,” kata Rocky.

Dalam acara tersebut hadir antara lain Wakil Bupati Aceh Timur, Sekda Aceh Timur M. Ikhsan Ahyat,S.STP,M.AP, para asisten, para kepala SKPK, para camat, Direktur FKL Rudi Putra dan unsur muspika setempat. Hadir juga pemerhati lingkungan dunia antara lain Andrew Simon Wright, Nicole Gretchen Rycroft (Kanada), Frank Bernhard Muller, Julian Alexander Schulz, Marilena Alica Muller (Jerman), Graham Usher (Inggris), Patrick Stone Gilfether dan Danya Mauren Kienan dari Amerika Serikat.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Timur, Iskandar, SH dalam laporan sebelumnya mengatakan, 48,9 kilometer barrier gajah yang dibangun melintasi 5,37 kilometer di dalam HGU PT Atakana – Pegunungan Ateung Peureulak, 15,51 kilometer batas HGU PT.Atakana – HGU DKS – batas HGU PTPN-I Julok Rayeuk Selatan, 7,76 kilometer.

Kemudian, lanjut Iskandar, batas HGU PT.DKS – HGU PTPN-I – batas HGU PT Tualang Raya, 6,69 meter HGU PT Tualang Raya – batas Kabupaten Aceh Utara (Krueng Jambo Aye), 4 kilometer SP VI Peunarun – arah Kecamatan Serbajadi dan 8,76 kilometer di dalam pegunungan Ateung Peureulak – SP VI. “Pembuatan barrier gajah tahap pertama kita harap selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama,” harapnya.[IS]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *