,

Aset Perbankan di Aceh Rp45,77 Triliun

BANDA ACEH – Kinerja perbankan di Aceh pada triwulan pertama 2016 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal itu tercermin dari beberapa indikator kinerja perbankan di Aceh, seperti aset dan pembiayaan yang mengalami peningkatan pertumbuhan.

Dalam Kajian Ekonomi Regional Bank Indonesia Triwulan Pertama 2016 yang ditandatangani Deputi Direktur Bank Indonesia Banda Aceh, Ahmad Farid, dirincikan, total aset perbankan di Aceh pada triwulan pertama 2016 sebesar Rp 45,77 triliun. Jumlah tersebut secara tahunan tumbuh sebesar 10,88 persen, meningkat sebesar 3,04 persen dari triwulan sebelumnya.

Aset perbankan di Aceh masih didominasi oleh bank konvensional yang mencapai Rp 40,85 triliun, sisanya Rp 4,92 triliun merupakan aset bank syariah. “Aset bank konvensional tumbuh 11,09 persen pada triwulan pertama 2016, lebih besar dari triluan empat 2015 yang hanya 3,21 persen. Aset bank syariah juga meningkat 9,18 persen pada triwulan pertama 2016, lebih besar dari triwulan sebelumnya yang hanya 1,9 persen,” jelas Ahmad Farid.

Pembiayaan atau kredit yang disalurkan perbankan di Aceh juga meningkat. Peningkatan terjadi seiring penurunan suku bunga kredit sebagai respon terhadap penurunan BI rate.

Pada triwulan pertama 2016 perbankan di Aceh menyalurkan kredit sebesar Rp 27,54 triliun atau tumbuh sebesar 10,17 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp 27,23 triliun atau tumbuh sebesar 7,92 persen.

Proporsi penyaluran kredit oleh perbankan konvensional pada triwulan laporan mencapai Rp 24,61 triliun atau tumbuh 10,17 persen, kondisi tersebut sedikit meningkat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya 9,53 persen.

Sementara itu pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan syariah masih mengalami kontraksi, namun sedikit membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yakni sebesar Rp2,93 triliun atau terkontraksi sebesar 3,51 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 3,75 persen.

Penyaluran kredit pada triwulan pertama2016 didominasi oleh kredit konsumsi dengan proporsi sebesar 59,3 persen dan kredit modal kerja sebesar 28,94 persen. Kredit konsumsi pada triwulan pertama 2016 mencapai Rp16,33 triliun atau mengalami penurunan pertumbuhan dari sebelumnya sebesar 8,26 persen menjadi 6,86 persen pada triwulan perdana 2016.

Begitu juga dengan kredit investasi yang tumbuh sebesar 21,12 persen atau mencapai Rp 3,24 triliun, menurun dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 24,39 persen. Sementara itu, kredit modal kerja pada triwulan pertama 2016 mencapai Rp 7,97 triliun, atau tumbuh sebesar 7,44 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,08 persen.

“Penurunan pertumbuhan kredit konsumsi dipicu oleh penurunan pertumbuhan kredit multiguna sebagai dampak perlambatan perekonomian Aceh pada tahun 2015. Sementara peningkatan pada penyaluran kredit modal kerja menjadi sinyal bahwa sektor produktif Aceh saat ini mulai menggeliat,” jelas Ahmad Farid.[**]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *