,

Ambisi

Untuk menjaga gairah, ambisi diperlukan. Lebih diperlukan lagi adalah cara meraihnya, maka kerja keras dibutuhkan. Dr James Mantangue berkata tidak pernah menjumpai orang menderita karena terlalu banyak bekerja. Lebih banyak orang menderita karena banyak ambisi tapi tak cukup berusaha.

Apa yang dikatakan Mantangue terasa betul dalam berbagai upaya meraih sesuatu. Seorang kawan berkeluh kesah. Ia berkata, kita terlalu lemah untuk dipaksa berlari mengejar ambisi yang menumpuk. Kita telah berusaha sekuat tenaga, tapi lelah kita bukan karena banyak kerja, melainkan banyaknya ambisi.

Menimbang hal itu, saya kembali teringat pada kisah India Klasik The Asthashastra dalam karyanya itu Kautilya berkata, mustahil tidak mencicipi madu atau racun yang sudah berada di ujung lidah. Kali ini saya tidak bermaksud menafsirkan ambisi sebagai racun, hanya saja mengibaratkan tumpukan ambisi itu sebagai beban yang tetap harus ditimang-timang, agar kaki tidak pincang ketika dipaksa untuk berlari.

Mustahil memang untuk tidak mengejar ambisi itu, jangankan mencicipi, ketika komitmen dalam kesepakatan telah beruwujud ikral, maka mengunyahnya pun harus dilakukan. Tapi bagaimana membuat agar racun itu tidak mematikan? Inilah yang harus dilakukan.

Bagaimana menghadirkan tawas sebagai penawar yang akan membuat racun itu tak berbahaya. Sebaliknya jadi tenaga baru untuk mengejar harapan. Namun, mengolah racun jadi stamina tidaklah muda. Keberuntunganlah yang akan membuat itu nyata. Bila tidak, tentu lemah dan mati. Namun, mengutip apa yang dikatakan Thomas Alva Edison, keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.

Tentu hanya orang-orang yang punya komitmen dan berani mengambil risiko yang tak gentar mencicipi racun ini. Satu hal yang perlu diingat, keberanian bukanlah ketidakhadiran rasa takut, tapi bagaimana kita melakukannya.

Gagal sesuatu yang sudah ada, tapi bagaimana menghindari kegagalan itu yang penting. Kegagalan bisanya merupakan langkah awal menuju sukses dan sukses itu sendiri merupakan jalan tanpa ketentuan menuju puncak kesuksesan. Itu kata Lambert Jeffries, bukan kata saya.

Maka, selagi ambisi itu ada, meski dalam wujud racun mari bersiap untuk menapak di jalan tak menentu itu. Namun, ketika mampu merintis jalan itu dengan beragam ketentuan, jangan pernah berbesar kepala, karena kepala kita tak lebih tinggi dari topi yang kita kenakan.[]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Iskandar Norman

Pemimpin Redaksi http://teropongaceh.com. Pernah bekerja di Tabloid Modus Aceh, Harian Aceh Independen, Harian Aceh dan Pikiran Merdeka. Menulis sejumlah buku seperti Nuga Lantui, Legenda Aceh dan Hadih Maja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *