,

Alumni Pesantren Direkrut Jadi Guru Agama

TAPAKTUAN – Alumni pesantren di Aceh Selatan diberi kesempatan untuk menjadi guru di sekolah. Kesempatan itu terbuka setelah pemerintah setempat menambah mata bidang study pendidikan berbasis syariah di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Hal ini sejalan dengan Kurikulum baru 2013 (K13) yang membolehkan adanya pengajaran muatan lokal. Untuk menjalankan program tersebut Dinas Pendidikan Aceh Selatan merekrut sebanyak 70 orang ustadz dan ustazah alumni sejumlah pondok pesantren di daerah tersebut.

Mulai Januari 2017, para guru pesantren tersebut akan mengisi mata pelajaran penguatan agama dan akhlak anak didik di seluruh SMP dalam Kabupaten Aceh Selatan.

“Sebenarnya dalam Kurikulum 2013 yang dimaksud mata pelajaran muatan lokal bisa mengajari para siswa bidang seni dan budaya atau bahasa daerah. Tapi khusus Aceh Selatan memilih menerapkan mata pelajaran pendidikan syariah untuk penguatan ilmu agama dan akhlak anak didik dengan merekrut alumni pesantren untuk mengajar di sekolah tingkat SMP,” kata Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra di Aula Disbudparpora, Tapaktuan, Kamis, 15 Desember 2016.

Pembukaan pelatihan pendidikan berbasis syariah yang diikuti sebanyak 70 orang ustadz dan ustazah serta 50 orang guru agama dari sejumlah SMP se-Aceh Selatan ini, dihadiri Asisten II Setdakab, Zaini Bakri, Kepala Dinas Pendidikan Drs Martunis, Kadis Syariat Islam M Rasyid, mewakili MPU dan MPD dengan menghadirkan pemateri dari pimpinan pesantren dalam Kabupaten Aceh Selatan.

Menurut Bupati, alasan pihaknya memilih menerapkan pendidikan berbasis syariah di sekolah tingkat SMP dilatarbelakangi rasa keprihatinan melihat banyaknya para siswa sekarang ini yang telah rusak akhlaknya akibat lemahnya pendidikan agama yang diajari di sekolah-sekolah.

“Perlu diketahui bahwa anak-anak sekarang ini lebih berbahaya dibandingkan dengan anak-anak zaman dulu. Hal itu terlihat jelas dari akhlak dan budi pekerti mereka sehari-hari baik sudah rendahnya sikap menghargai orang tua maupun dari segi pergaulan bahkan sudah menjurus ke penyalahgunaan narkoba. Ini disebabkan selain karena lemahnya pengawasan orang tua juga lemahnya ilmu agama sehingga menjadi tugas dan tanggung-jawab kita bersama untuk memperbaiki akhlak mereka menjadi lebih baik lagi ke depannya,” jelas Sama Indra..

Sama Indra mengakui pendidikan agama Islam yang diajarkan di sekolah-sekolah dalam Kabupaten Aceh Selatan selama ini belum maksimal seperti diharapkan karena metode pendidikannya sistem kejar target untuk memenuhi jam pengajaran guru bersertifikasi dan menghindari nilai rapor siswa merah.

Oleh sebab itu, ia berharap kepada alumni pondok pesantren yang telah direkrut menjadi guru agama di sekolah SMP agar memfokuskan pengajaran terhadap siswa mengenai penguatan ilmu keagamaan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Selatan, Drs Martunis menyebutkan, tujuan digelarnya pelatihan pendidikan berbasis syariah tersebut untuk mensinkronisasikan atau menyamakan persepsi antara guru agama di seluruh SMP di daerah itu dengan para ustadz dan ustazah yang telah direkrut tersebut saat menyelenggarakan pendidikan agama dan penguatan akhlak bagi anak didik mulai Januari 2017 mendatang.

“Untuk tahap pertama program ini kita fokuskan untuk siswa tingkat SMP, jika dalam implementasinya berhasil seperti yang diharapkan maka ke depannya akan kita kembangkan secara lebih luas dengan menyasar para siswa tingkat SMA dan SMK,” ujar Martunis.[Hendri Z]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *