,

Akibat Harga Anjlok Petani Cabai Tinggalkan Kebun

BLANGKEJEREN – Sebagian petani cabai di Kabupaten Gayo Lues nekat meninggalkan perkebunanya yang telah siap tanam. Pasalnya, harga cabai yang kini anjlok membuat para petani tidak berani mengambil resiko menambah modal akibat takut merugi.

Kaidir salah satu petani cabai merah di daerah Jabo, Blangkejeren, Senin, 6 Maret 2017 mengatakan, dirinya nekat meninggalkan kebun cabai lantaran tidak inggin mengalami rugi yang banyak seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia memprediksi harga cabai akan terus turun hingga beberapa bulan ke depan.

“Biasanya kalau harga cabai sudah murah akan bertahan lama, namun jika harga mahal, palingan hanya bertahan selama satu bulan, makanya saya mencoba menanam tanaman lain dan tidak lagi merawat tanaman cabai ini,” katanya.

Jika tetap memaksakan kehendak membeli pupuk, pestisida dan melakukan perawatan dengan baik, Kaidir mengaku tidak akan bisa mengembalikan modal awal yang sudah banyak dikucurkannya, mulai untuk membeli mulsa plastik, bibit cabai, pupuk, dan ongkos pengolahan lahan.

“Saya belajar dari pengalaman, tahun lalu saya tanaman juga cabai merah, pas harganya turun, saya tetap megeluarkan banyak modal, namun hargaya tetap bertahan hingga panen selesai, dan akhirnya kerugian jadi bertambah dua kali lipat,” ungkapnya.

Saat ini, harga cabai merah di Kabupaten Gayo Lues masih tetap bertahan Rp 8 ribu per kilogram sejak beberapa Minggu terakhir, begitu juga dengan harga cabai rawit yang masih Rp 30 higga Rp 35 ribu per kilogram. Kalau tidak ada kenaikan harga selama satu bulan kedepan, maka akan banyak petani di Gayo Lues yang akan mengalami kerugian. [Win Porang]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *