,

Ahli Waris Tanah Terminal Gugat Pemkab Gayo Lues

BLANGKEJEREN – Mukhtar anak dari Abdul Karim Ali, menggugat Pemerintah Kabupaten Gayo Lues terkait lahan pembangunan terminal Blangkejeren. Alasanya, berdasarkan sertifikat tanah itu masih miliknya.

Kasus ini bermulia ketika Pemkab Gayo Lues mempersoalkan bangunan rumah yang dibangun Mukhtar di jalan masuk ke stadion Seribu Bukit. Pemkab Gayo Lues menganggap tanah di pintu masuk itu merupakan lahan milik Pemda yang dihibahkan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara sebelum Gayo Lues menjadi daerah tingkat dua defenitif.

Beberapa kali surat pemerintah bongkar sudah disampaikan Pemkab Gayo Lues, namun Mukhtar tak bergeming. Kini malah Pemkab Gayo Lues yang akan digugat balik, tapi dengan objek yang lain, yakni tanah terminal Blangkejeren.

Mukhtar menjelaskan, tanah di pintu masuk stadion itu merupakan tanah warisan dari almarhum orang tuanya atas nama Abdul Karim Ali, jadi siapapun tidak berhak melarang dirinya membuat rumah meski dipintu masuk Stadion.

“Kalau memang Pemda Gayo Lues mengaku atau mengklaim bahwa tanah pintu masuk Stadion itu tanahnya atas dasar apa, apakah ada surat sama Pemda bahwa itu miliknya, kalau ada tunjukan dong suratnya,” katanya, Senin, 3 April 2017.

Mukhtar mengaku memiliki sertifikat tanah tersebut yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) tahun 1986 dengan luas 10.697 meter persegi, surat hak milik itu bernomor 35 yang pemiliknya adalah orang tua kandungnya atas nama Abdul Karim Ali.

Disisi lain kata Muhktar, pihaknya juga akan melakukan gugatan terhadap Pemkab Gayo Lues terkait bangunan dan tanah terminal Kota Blangkejeren, sebab, jika dihitung luas tanah berdasarkan sertifikat tanah yang ia pegang, tanah terminal kota Blangkejeren saat ini masih menjadi milik keluarganya.

“Kalau memang tanah terminal Kota Blangkejeren itu sudah dihibahkan oleh almarhum orang tua saya, tentu ada bukti berupa surat, dan kami dari keluarga besar ingin melihat mana suratnya, karena dalam sertifikat tanah yang saya pegang ini masih masuk tanah itu ke hak milik keluarga kami,” ungkapnya.

Keluarga besar almarhum Abdul Karim Ali juga menyayangkan sikap Pemkab Gayo Lues yang seenaknya mengizinkan orang menempati ruko di samping kanan terminal kota Blangkejeren, padahal jika tanah itu merupakan milik Pemda, seharusnya sewanya setiap tahun menajdi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Kami menggangap orang yang menempati ruko-ruko itu sampai diperjual belikan adalah perampasan hak, dan kami akan memeja hijaukan mereka juga, sebab kami masih memilik surat dan saksi-saksi terkait tanah terminal Kota Blangkejeren tersebut,” tegasnya.

Jika pihaknya sudah memenangkan gugatan nantinya, Mukhtar mengaku tidak akan mengganggu masjid yang ada didalam kompleks Terminal, dan itu akan dihibahkan keluarga besarnya untuk masyarakat sekitar menjadi tempat beribadah.

“Intinnya kalau memang itu tanah keluarga besar kami, maka kami akan kuasai lagi, kalau memang Pemda mau, ya harus diganti rugilah, begitu juga kalau memang tanah itu milik Pemda, tunjukan surat-suratnya, biar jelas,” pungkasnya. [Win Porang]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *