,

Abrasi Lhok Bengkuan Kian Parah

TAPAKTUAN – Abrasi pantai Lhok Bengkuang kian parah, Pemkab Aceh Selatan mengaku tidak memiliki dana untuk pembangunan tangul. Anggota DPRK ditantang untuk mengalihkan dana aspirasi untuk penanggulangan bencana tersebut.

Belum ditanganinya bencana abrasi itu membuat ratusan warga yang bermukim di sepanjang pantai Dusun Ujung Pasie, Desa Lhok Bengkuang Timur, Kecamatan Tapaktuan, mengaku kecewa terhadap Pemkab Aceh Selatan.

Nilawati (41) warga di Desa Lhok Bengkuang Timur, Kamis, 9 JUni 2016 mengatakan, bencana abrasi laut tersebut telah berlangsung selama 10 hari lalu atau persisnya sejak tanggal 30 Mei 2016 lalu. Dampak dari abrasi tersebut, selain merusak beberapa rumah penduduk, jarak bibir pantai dengan rumah warga tinggal sekitar dua meter lagi, sejumlah rumah penduduk tergenang air setinggi 500 cm hingga 1 meter.

Menurutnya, air rob yang menggenangi sejumlah rumah penduduk di Dusun Ujung Pasie, Desa Lhok Bengkuang Timur tersebut selain berasal dari hempasan ombak pasang, juga berasal dari air saluran drainase yang meluber ke rumah-rumah penduduk akibat muara saluran drainase telah tertutup material kerikil dan pasir yang dihempas ombak laut.

Nilawati mengaku, genangan air pada Kamis, 9 Juni 2016 tergolong yang paling parah sejak 10 hari lalu, sebab genangan air yang berlangsung sejak tanggal 30 Mei 2016 lalu, hanya sesekali masuk dalam rumah kemudian surut dengan sendirinya, tapi pada Kamis tersebut, genangan air setinggi 500 cm hingga 1 meter bertahan sejak pagi hingga sore hari sehingga merendam rumah warga.

Nilawati bersama warga setempat meminta kepada Pemkab Aceh Selatan melalui Dinas terkait segera melakukan penanggulangan darurat dengan cara mengeruk muara kuala menggunakan alat berat (beco), sehingga air di dalam saluran drainase dapat mengalir lancar ke laut.

Selain itu, pihaknya juga mendesak Pemkab Aceh Selatan segera membangun kembali tanggul pengaman pantai (break water) di sepanjang pesisir pantai desa setempat. Sebab keberadaan tanggul yang dibangun sekitar tahun 2007 silam, telah ambruk dihantam ombak.

Kepala Desa Lhok Bengkuang Timur, Muslim SE, menyatakan, pihaknya telah melaporkan terkait bencana abrasi tersebut ke Pemkab Aceh Selatan melalui dinas terkait, baik laporan kerusakan yang ditimbulkan maupun jumlah warga korban dampak dari bencana tersebut.

Namun dalam kesempatan itu, Muslim meminta kepada masyarakat yang bermukim di sepanjang pantai tersebut, supaya segera menghentikan pengambilan material pasir dan batu kerikil untuk dijual ke pihak tertentu. Sebab pihaknya menilai, salah satu penyebab utama sehingga tanggul pengaman pantai yang ditelah dibangun di sepanjang pantai tersebut dengan menggunakan material batu gajah bisa ambruk, disebabkan karena ulah masyarakat sendiri yang secara terus menerus mengeruk pasir dan batu kerikil di pesisir pantai.

Sementara itu Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan, Erwiandi, mengatakan, satu-satunya solusi untuk menanggulangi bencana abrasi di Desa Lhok Bengkuang Timur tersebut hanya dengan cara membangun tanggul pengaman pantai.

Hanya saja, yang menjadi persoalan pihaknya saat ini adalah tidak tahu harus mengambil anggaran dari sumber mana untuk membangun tanggul laut yang diperkirakan membutuhkan anggaran mencapai miliaran rupiah.

Menyikapi sudah semakin parahnya bencana abrasi tersebut, kata Erwiandi, Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra SH telah menggelar rapat dengan beberapa dinas terkait seperti BPBD, DPKKD, Bappeda, Dinas Sumber Daya Air serta Kabag Pembangunan Setdakab, mencari solusi sumber pendanaan.

Namun setelah dilakukan pembahasan secara komprehensif, akhirnya mereka menyimpulkan bahwa tidak tahu harus dari mana mencari sumber pendanaan yang cukup untuk membiayai proses penanggulangan bencana abrasi tersebut.

“Sebab yang namanya pekerjaan proyek tanggul menggunakan batu gajah, minimal menghabiskan anggaran sekitar Rp 3 miliar lebih. Sementara jika dialihkan penggunaan dana otsus non pendidikan paling ada sekitar Rp 1,5 miliar. Sedangkan pos anggaran Bantuan Tidak Terduga (BTT) dalam APBK 2016 sejumlah Rp 2 miliar, peruntukannya bukan saja untuk penanggulangan bencana alam, tapi juga untuk kepentingan lainnya seperti bantuan sosial serta penanggulangan wabah penyakit,” papar Erwiandi.

Menurut Erwiandi, dalam rapat tersebut Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra SH meminta kepada anggota DPRK agar tidak asal ngomong di media massa. Jika anggota dewan tetap mendesak Pemkab Aceh Selatan untuk segera melakukan langkah penanganan, maka Bupati HT Sama Indra SH menantang anggota dewan supaya bersedia mengalihkan dana aspirasi yang diterima masing-masing anggota dewan sebesar Rp 750 juta dalam APBK 2016, untuk kebutuhan anggaran penanggulangan bencana abrasi laut.

“Bupati meminta kepada anggota dewan khususnya anggota dewan yang berasal dari Tapaktuan seperti saudara H Helmi Karim dari Partai Demokrat dan Rustaman dari Partai NasDem, agar tidak hanya pandai ngomong saja di media massa. Berani tidak mereka merelakan jatah dana aspirasi yang diterima masing-masing nya Rp 750 juta untuk dialihkan pada penanggulangan bencana abrasi,” kata Erwiandi menirukan ucapan Bupati.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *