,

3 Jam Mengarungi Sungai Menembus Isolasi Alue Keujruen

KLUET – Gampong Alue Keujruen, Kemukiman Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah merupakan salah satu daerah terisolir di Kabupaten Aceh Selatan. Transportasi ke sana hanya menggunakan perahu kecil.

Pemerintah Aceh Selatan berupaya untuk membuka keterisolasian kawasan tersebut Sabtu, 16 Juli 2016 pukul 07.00 WIB rombongan Bupati HT Sama Indra berangkat dari Tapaktuan menuju ke sana.

Dari ibu kota kabupaten itu mereka menggunakan mobil melalui lintasan jalan yang baru dibuka dari kawasan Gunung Desa Paya Ateuk, Kecamatan Pasie Raja tembus Desa Simpang Tiga, Menggamat.

Setiba di pinggir Sungai Desa Lawe Melang, Menggamat, rombongan yang terdiri dari Bupati HT Sama Indra dan Wakil Bupati Kamarsyah, Sekdakab H Nasjuddin, para Asisten dan Kepala SKPK dalam lingkup Pemkab Aceh Selatan, terpaksa harus melanjutkan perjalanan menggunakan perahu bermesin Robin karena satu-satunya sarana transportasi untuk menuju ke wilayah terpencil dan terisolir tersebut hanya dengan moda transportasi sungai yang dioperasikan oleh warga setempat.

Perahu dengan lebar 1 meter dan panjang 5 meter menerobos derasnya arus sungai Krueng Kluet untuk menuju ke Desa Alue Keujrun yang berlokasi di pinggir hulu sungai dengan masa tempuh mencapai 3 jam perjalanan. Rombongan yang berangkat ke Alue Keujrun seluruhnya sebanyak 80 orang lebih dengan jumlah perahu berkisar antara 20 hingga 25 unit. Satu perahu mampu mengangkut penumpang antara 5 hingga 7 orang.

Bupati Aceh Selatan Berkunjung ke Desa Terpencil Alue KeujrunMemasuki pedalaman kawasan hutan yang terlihat masih sangat alami itu, dari atas perahu kami merasakan udara yang sejuk dan segar menunjukkan bahwa kondisi hutan dalam kawasan hutan lindung tersebut masih terjaga kelestariannya. Kondisi tanah dalam kawasan ini juga terlihat sangat subur sehingga tanaman apapun yang ditanam oleh petani seperti jagung, cabai, kopi, kakao, pinang, nilam, pisang serta lainnya tampak terlihat tumbuh subur.

Setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam, rombongan singgah di pinggir sungai bekas wilayah perkampungan penduduk Desa Alue Keujrun, untuk beristirahat sejenak sembari operator mengisi BBM.

Menurut keterangan Camat Kluet Tengah, Martunis, tempat persinggahan tersebut dulunya wilayah Desa Alue Keujrun, namun akibat serangan gajah yang meluluhlantakkan lahan perkebunan dan tempat tinggal penduduk setempat, warga setempat terpaksa eksodus ke lokasi lain di atasnya dengan membuka lahan pemukiman baru.

Perjalananpun kami lanjutkan kembali ke Desa Alue Keujrun dan setelah menempuh perjalanan selama 3 jam akhirnya kami sampai ke lokasi desa yang berada dalam wilayah hutan Menggamat atau persisnya berada di kaki Gunung Leuser. Wilayah perkampugan ini memiliki tiga dusun yakni dusun Sarah Baro, Tengku Damar Buih dan Sarah Mungkur serta di huni sebanyak 65 Kepala Keluarga (KK) atau 280 jiwa penduduk.

Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra mengatakan, kunjungan kerja tersebut merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya pada tahun 2015 lalu juga telah pernah melakukan kunjungan yang sama. Kedatangan Bupati ke desa tersebut selain melakukan peletakan batu pertama pembangunan SMP Negeri satu atap Alue Keujrun.

Bupati juga sekaligus menyerahkan paket bantuan kesehatan dan bantuan sosial kepada masyarakat setempat serta meninjau dan melakukan tepung tawar (peusijuk) tanda telah dioperasikannya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bantuan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sumber APBN tahun 2015 sebesar Rp 6 miliar dengan kapasitas 20 kilo watt.

Pemkab Aceh Selatan, kata Bupati Sama Indra, bertekad akan terus berupaya membebaskan kondisi keterisoliran wilayah Desa Alue Keujrun. Hal itu telah dibuktikan pihaknya dengan mewujudkan pembangunan PLTS sehingga wilayah tersebut tidak lagi gelap gulita di malam hari. Disamping itu, pihaknya juga terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak di desa tersebut dengan membangun SMPN satu atap.

“Bayangkan saja selama ini, hampir 50 persen anak-anak tamat SD di Desa ini tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena belum tersedia bangunan SMP. Sementara jika ingin melanjutkan pendidikan ke ibu kota Kluet Tengah di Menggamat, mereka harus mengarungi sungai menggunakan perahu dengan masa tempuh selama 3 jam serta membutuhkan biaya transportasi yang mahal,” ujar Bupati.

Menurut Bupati, anggaran pembangunan SMP satu atap yang mencapai miliaran rupiah tersebut bersumber dari Kementerian Pendidikan bukan berasal dari anggaran daerah (APBK atau APBA). Oleh karena itu, bupati mengharapkan kepada masyarakat setempat untuk membantu pihak sekolah menyukseskan program pembangunan sekolah tersebut.

Selain bidang pendidikan dan energi listrik, sambung bupati, pihaknya juga telah memprogramkan pembangunan jalan tembus mulai dari Desa Gampong Padang, Menggamat ke Alue Keujrun dengan panjang lebih kurang mencapai 50 Km lebih.

Pembangunan jalan tersebut akan berlangsung dalam dua tahap yakni tahap pertama akan di buka oleh Pemkab Aceh Selatan sedangkan untuk tahap dua akan dilanjutkan oleh pihak Perusahaan yang berencana akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 180 MW di kawasan gunung desa setempat.

“Meskipun dengan jumlah penduduk yang tergolong sedikit, tapi kita tidak melihat sisi keuntungan secara ekonomi dalam membangun fasilitas infrastruktur di Desa Alue Keujrun ini, tapi kita lebih mempertimbangkannya secara kemanusiaan. Makanya segala upaya akan kami lakukan untuk mengakhiri kondisi keterisoliran Desa Alue Keujrun termasuk telah memprogramkan akan membangun SMA satu atap pada tahun 2017 mendatang,” tegas bupati.

Camat Kluet Tengah, Martunis mengatakan, masyarakat Desa Alue Keujrun merasa sangat terharu dengan kunjungan kerja yang kedua kalinya bupati beserta rombongan pejabat dari Tapaktuan tersebut. Soalnya, sejak berdirinya Aceh Selatan, hanya HT Sama Indra bupati yang telah menginjakkan kakinya di wilayah desa terpencil dan terisolir tersebut.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *