,

2018 Semua Ruas Jalan Bireuen – Takengon Sudah Standar Nasional

BIREUEN – Dalam tahun 2018 diupayakan seluruh bagian jalan di lintasan Bireuen-Takengon sudah standar nasional. Anggaran rehabilitasi jalan ke dataran tinggi Gayo itu meningkat dari tahun 2017 yang hanya Rp 20 miliar menjadi Rp 58 miliar pada tahun 2018.

Hal itu disampaikan anggota Komisi V DPR RI yang membidangi urusan infrastruktur dan perhubungan, H Firmandez, Senin, 18 Desember 2017 di Jakarta. Anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) 2 Aceh ini menjelaskan, rekonstruksi jalan Bireuen-Takengon sepanjang 103 kilometer akan terus dipacu, karena ada beberapa titik yang belum memenuhi standar nasional.

Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh ini merincikan, selama ini dari 103 kilometer jalan lintasan Bireuen-Takengon, ada sekitar 31,7 kilometer yang belum standar nasional. Ia berharap dengan dinaikkannya anggaran pada tahun 2018 ini, semua ruas jalan tersebut bisa standar nasional.

“Saya di komisi yang membidangi urusan infrastruktur dan perhubungan sudah memperjuangkan ini. Syukur anggarannya dinaikkan dari Rp 20 miliar tahun lalu menjadi sekitar Rp 58 miliar untuk tahun 2018. Saya berharap ini bisa memaksimalkan pembangunan infrastruktur jalan ke Gayo,” jelas H Firmandez.

H Firmandez melanjutkan, pembangunan jalan berstandar nasional itu sangat penting, agar tidak ada lagi tambal sulam jalan di lintasan tersebut. Cara-cara tambal sulam jalan harus ditinggalkan, pembangunan jalan harus benar-benar bermutu sesuai dengan standar nasional.

Selain itu kata H Firmandez, berdasarkan letak geografis dan tofografi daerah, kawasan dataran tinggi Gayo merupakan daerah dengan curah hujan tinggi, sehingga setiap tahun selalu terjadi longsoran di beberapa ruas jalan. Karena itu, ia berharap pembangunan jalan di kawasan itu juga harus disertasi dengan pembangunan drainase dan penahan tebing di sisi jalan rawan longsor.

“Dengan bagusnya infrasruktur jalan di dataran tinggi tersebut, maka mobilitas barang dan jasa akan lebih lancar, yang tentunya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah. Apalagi di kawasan utara Aceh yakni di Lhokseumawe sudah ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe. Jadi pembangunan inftrastruktur jalan dataran tinggi Gayo harus terintegrasi ke kawasan KEK Arun di Lhokseumawe,” harap H Firmandez.

Sementara itu, Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional 1 (BPJN 1) Aceh, Fathurrahman menjelaskan, terkait pembangunan jalan lintas Bireuen-Takengon sudah dalam proses lelang. Selama ini pemeliharaan jalan tersebut terus dilakukan secara bertahap. Sementara untuk kawasan rawan longsor tetap dilakukan pemeliharaan secara insidentil.

Khusus untuk kawasan Takengon-Pameu arah ke Geumpang, ada tujuh jembatan darurat yang harus diganti. Dalam tahun 2018 satu jembatan darurat tersebut di kawasan Blang Polem akan diganti dengan jembatan rangka baja.

“Pelan-pelan diganti, tahun 2018 ini satu jembatan rangka baja dibangun di kawasan Blang Polem. Alhamdulillah tahun 2018 ada peningkatan anggaran untuk lintas tengah sekitar Rp 30 miliar,” ungkapnya.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *